Nasehatbaik

Nasehat-Menasihati ….???

Yang Tak Lekang oleh Waktu

Yang Tak Lekang oleh Waktu

Oleh: Lisya Anggraini (Wkl. Ketua KPID Kepri)

Itulah kemampuan radio . radio membuat gambar. Meski tidak memiliki ruang visual seperti media televisi dan media cetak, kekuatan suara justru membuka ruang lebar pengembaraan imajinasi dan membiarkan pendengar menciptakan gambar dalam ruang imajinasi mereka. Lewat pengembaraan imajinasi pendengar tidak hanya berada di tempat peristiwa juga merasakan peristiwa.

Rahmat murid kelas 5 SD 003 Baloi Kota Batam, pendengar setia Tadarus bi Talifun radio Hang FM, tidak tahu menahu mengenai Guglielmo Marconi. Barangkali juga Suhardis pemilik radio Disovery Minang, atau Umil mantan penyiar radio Batam FM. Tapi mereka telah menikmati hasil karya Marconi. Lelaki asal Italia ini, yang pertama kali menemukan gelombang radio lalu mendorong lahirnya teknologi audio, yang bisa memancar ke berbagai pendengar. Tidak saja untuk negerinya, tapi juga menyeberangi samudera Altantik. Marconi melakukannya lebih seabad lalu, tahun 1901.

Sekali pun barangkali ia tidak akan meminta dirinya mesti diketahui oleh siapa pun sekarang ini. Baik oleh para pendengar setia radio, penyiar maupun pebisnis radio .Namun hasil karya Marconi telah berkembang dan dinikmati oleh siapa saja yang punya kemampuan mendengar. Dan menikmati apa yang disajikan radio terlanjur lebih asyik dibandingkan mengikuti lika-liku perjalanan radio, yang saling merebut telinga kita untuk mendengarkan ragam siarannya. Namun kita juga tidak bisa menganulir sejarah, bahwa sekalipun radio Repuplik Indonesia (RRI) kini tidak selincah radio- radio swasta lain, adalah pentolan sejarah lahirnya radio di negeri ini. Nun, jauh di tahun 1939.

Ketika itu hingga masa-masa tahun awal tahun 60-an, mendengarkan RRI tidak hanya sebagai satu-satunya sumber informasi yang dimiliki oleh negeri ini, yang nota bene penyampai pesan-pesan pemerintah, juga satu-satunya sumber hiburan untuk publik. Ketika itu pun perangkat radio bentuknya besar-besar bahkan hampir berbentuk bufet kecil berkaki dengan bagian depan ada alat putaran band. radio adalah sebuah kemewahan. radio sebagai media audio memiliki intensitas yang kuat dengan pendengarnya. Intensitas itu dibangun karena kedekatan emosi dari apa yang disiarkannya. Karenanya, sekali pun tidak memberikan fasilitas visual atau gambar, radio memiliki kemampuan memasuki tidak hanya ruang privat , tetapi juga ruang psikis setiap pendengarnya.

Dengan memberikan kepuasan berawal dari telinga, ke ruang di kepala lalu perasaan mengimajinasikan bebas merdeka dari apa yang didengar. Sehingga kemudian menciptakan gambar dalam benak dari apa yang didengar. Sekalipun pendengar radio tidak disuguhi gambar-gambar apa-apa. Namun ketika itulah intensitas pendengar dengan radio tengah terjalin kuat. Ibu saya, di awal tahun 60-an tak bisa lepas dari siaran RRI setiap sore. Seperti menyantap kudapan sore yang harus selalu dibutuhkan. Wajahnya kadang berseri-seri, kadang menyiratkan kemuraman, mendengarkan kebolehan deklamator, Rondang Marpaung, membawakan sajak-sajaknya. Romantisme masa lalu yang tak ditemuinya hingga kini di kala teknologi audio telah ber-evolusi tidak hanya menyajikan suara tapi juga gambar, yakni televisi.

Teknologi radio sendiri ikut berkembang memunculkan radio swasta di tanah air memasuki dekade 70-an. Dunia broadcasting tidak lagi hanya satu-satunya dikuasai oleh RRI. Namun radio swasta dengan gelombang pendek hanya muncul di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Medan. Sehingga di beberapa daerah, RRI tetap saja menjadi penguasa karena jangkauannya meliputi berbagai daerah. Salah satu siaran hiburan terkuat RRI hingga waktu itu, sandiwara radio Butir-butir Pasir di Laut. Di kala yang sama, siaran pertandingan sepakbola menjadi hiburan yang paling digemari juga dari RRI. Komentator

sepakbola yang menyiar, mampu menjadikan pendengarnya ”menyaksikan” laju dan menggelandangnya bola baik ketika menjauh dari gawang maupun mendekati bahkan gool. Semua itu didapat dari apa yang didengarkan.Juga ketika sandiwara radio dikumandangkan, pendengar bisa menangis, tertawa, marah bahkan ngeri karena tidak hanya bisa menyaksikan juga merasakan apa sesungguhnya terjadi. Barangkali di antara kita masih teringat masa-masa kejayaan sandiwara radio Nini Pelet dan Saur Sepuh menduduki peringkat kuat siaran radio swasta tahun 80-an akhir.

Itulah kemampuan radio. radio makes picture. Meski tidak memiliki ruang visual seperti media televisi dan media cetak, kekuatan suara justru membuka ruang lebar pengembaraan imajinasi dan membiarkan pendengar menciptakan gambar dalam ruang imajinasi mereka. Lewat pengembaraan imajinasi pendengar tidak hanya berada di tempat peristiwa juga merasakan peristiwa. kata Ade Kusuma Ningrum, dalam tulisannya radio, Media Alternatif Suara Perempuan? Karena itu pula sebera pun perkembangan teknologi media dengan beragam bentuknya, tidak hanya televisi, juga internet, serta televisi di internet bahkan di handphone, radio tetap akan memiliki tempat bagi khalayak.

Mereka punya segmen tersendiri. Dan tidak akan ketinggalan zaman selama pengelola radio mengembangkan sajian siaran yang memang dibutuhkan pendengarnya. Para pebisnis pun melihat bidang ini sebagai garapan yang tidak akan mati. Karena radio pun akan berevelusi teknologi untuk pengembangan radio itu sendiri. Gambaran itu terlihat dari perkembangan radio di kota ini. Dari catatan KPID Kepri, ada 22 radio swasta di daerah ini.

Namun lima di antaranya tidak mengudara. Empat diantaranya mengantongi izin siaran radio (ISR) yang umumnya radio lawas berada di sini. Mulai dari Batam FM, Zoo FM, Bentara FM, dan Key FM. Lima radio akan mendapatkan izin penyelenggaraan penyiaran karena telah lulus dalam proses terakhir perizinan yakni Forum Rapat Bersama (FRB). Dan beberapa radio yang telah mendapatkan rekomenddasi kelayakan untuk dibawa ke FRB. radio – radio itu pun hadir dengan identitasnya masing-masing agar bisa mendapatkan pendengar. Meski pun beberapa radio masih mencari identitasnya, agar memenangi persaingan. Ada yang kental sekali bernunasa bisnis, seperti radio Sing FM. Berupa dakwah dari radio Hang FM dan radio Salam. Bercirikan keragaman etnis, yang diemban radio Discovery Minang, dan menguasai pendengar anak muda, seperti Bigs FM, Selia radio. Dan profesional muda yang diterjemahkan Zoo FM dan Key FM.

Memang identitas itu lah yang akan menjadi penentu setiap radio bisa melekat bagi pendengarnya. Identitas yang akan tergambar dari mata acara siaran yang disiarkannya. Selanjutnya, pendengar yang akan punya kuasa menentukan radio mana yang akan menemaninya. Mengisi ruang telinga, lalu mengisi dan ruang psikis mereka. *** Thursday, 13 March 2008

September 21, 2008 - Posted by nasehatbaik | Coretan, Komunikasi, My Opini | | No Comments Yet

No comments yet.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.